Mereka hidup di desa terpencil di
Kabupaten Rembang, tepatnya di Dusun Ngotoko, Desa Pasedan, Kecamatan Bulu,
Kabupaten Rembang. Lokasinya berada di tengah hutan, perbatasan Kabupaten
Rembang dan Kabupaten Blora.
Terdapat 60 warga yang tinggal di Dusun
Ngatoko. Sebagian besar jalannya masih jalan terjal berbatu, dan kanan kiri
jalan diapit hutan lebat.
Rumpi tinggal di rumah berdinding bambu
berlantaikan tanah di kawasan Banyubang-Ngatoko. Rumahnya terpisah dari
pemukiman penduduk, rumah ini menyendiri di dataran rendah, berhimpitan dengan
lebatnya pohon jati.
Ia tinggal bersama Suntari putrinya yang
kini menginjak bangku kelas 1 SMP, dan juga Sarikem ibunya. Mereka bertiga
hidup dengan segala keterbatasan yang ada.
Semenjak suaminya meninggal, Rumpi harus
tetap melanjutkan hidupnya dengan bekerja sebagai pencari kayu bakar atau
rencek di dalam hutan. Ia melakoni pekerjaan berat itu lantaran tidak ada
pekerjaan lain.
Ia harus mengumpulkan kayu, yang kemudian
diambil pengepul. Satu truk kayu bakar dihargai Rp600 ribu. Dari
penghasilannya, ia gunakan untuk belanja kebutuhan sehari-hari.
Sang anak, Suntari bersekolah di SMPN I
Bulu, jarak rumah dengan sekolah sangat jauh. Namun, saat ini sistem
pembelajaran tatap muka masih belum berjalan efektif.
Sehingga Suntari memanfaatkan waktunya
dirumah sambil membantu pekerjaan ibunya. Mulai bersih-bersih pekarangan,
memasak, menemani neneknya hingga merawat ternak. Suntari adalah anak yang
baik, ia menyadari bahwa dengan hal itu ia dapat meringankan beban ibunya,
Rumpi.
Baginya, Rumpi adalah sosok pahlawan di
hidupnya. Suntari memiliki tekad yang kuat untuk bisa meraih masa depan yang
cerah agar dapat membahagiakan nenek dan ibunya.
Meskipun hidup dengan segala keterbatasan,
mulai dari lingkungan terpencil, sarana prasarana yang tidak memadai, hingga
minimnya ketersediaan listrik, ketiga perempuan itu tetap berjuang menjalani
kehidupannya dengan penuh rasa syukur.
